Candi Lawang, dusun di pelosok bukit kapur yang gersang itu dilanda pagebluk berat. Matahari marah hampir seperempat windu, hingga langit tak dapat lagi menangis, tanah kerontang, dan akhirnya tanaman mati. Bencana makin meraja ketika ribuan tikus mengamuk meluluhlantakkan pertiwi. Itulah yang selalu diingat ibu ketika saya harus datang malam-malam kintir banjir darahnya, hanya sekedar untuk memecah sunyi dengan tangis pertama saya. Malam itu belasan bulan kurang beberapa hari sebelum gegeran Luweng Boyo. Tak banyak kerabat yang datang menengok karena untuk berjalanpun sudah susah, hilang segala kekuatan, semua lapar.
Se A Vida E, that’s the way life is, itulah jalan kehidupan, lampahing gesang nggih kados mekaten. Namun demikian, di tengah kegelapan masih ada secercah terang. Ayah ibu masih dapat mendarmakan sesuatu pada sesama dengan banyak menampung mereka dan itu dianggap sebagai kebahagiaan hidupnya. Akhirnya terlintas menjadi sebuah nama, yang harus saya bawa hingga hari ini, Darma dan Bahagia. Memang saya bukan siapa-siapa, belum bisa mendarmakan sesuatu bagi hidup, apalagi mencapai bahagia. Namun demikian syukur selalu tergumam setiap saat setiap waktu. Tuhan telah memberi kesempatan bagi saya untuk turut serta menghuni duniaNya.
Bila pada saat ini ikut juga membuka Pintu, itu karena ada beberapa alasan yang sebenarnya tak begitu berguna, sebab barangkali nanti semua itu akan menjadi basi, lalu terbuang percuma. Satu hal yang saya yakini adalah bahwa setiap Pintu merupakan instrumen di mana individu dengan segala pokal gawenya, yang tak mempunyai akses, dapat terhubung ke luar rumahnya, sehingga dapat memiliki kesempatan bersentuhan dengan lingkungan di luar komunitas utamanya. Tapi saya tahu juga bahwa komunikasi selalu dan selalu terjebak pada palagan perang konflik kepentingan : sudut pandang, metodis, ideologis, ekonomis, sosial, budaya, spiritual, atau bahkan keyakinan. Setiap sistem pintu biasanya dicurigai sebagai kaki-tangan kepentingan pemilik rumah untuk meneguhkan atau memodifikasi ilusi lingkungannya menjadi sejalan dengan utophianya sendiri, dengan kekuasaan yang dimilikinya, meskipun hanya sebatas ruang lingkup jangkauan pintunya.
Bukan, bukan demikian maksud saya. Saya hanya ingin sekedar mencoret-coret daun pintu saya, lantai, dinding, jendela, bahkan atap rumah saya, seperti ketika anak saya belajar menulis aksara meski yang tertera tidak membentuk carakan apapun juga. Ia tetap bangga, namun sayangnya ketika diminta membaca, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya. Demikian juga coretan saya, meski berbentuk kata-kata, barangkali itu hanya sekedar ungkapan rasa yang tercerabut, tercecer, dan tanpa tempat berpijak, sebagai megatruh jiwa selepas senja layaknya gita ibu bumi-bopo angkoso dalam mendekap buah hati agar terlindung dari sukerto bala Kala, yang mengendap-endap setiap waktu dari segala penjuru. Kata-kata itu juga hanya sebagai upaya lambungan sebentuk simulacrum, citra, meskipun terkadang bisa meniadakan dialektika, mengaburkan parodi-ironi, karena seperti matahari juga yang awalnya tiada lalu beranjak semburat redup, menjadi hangat, terik, lunglai, untuk bergerak menjauh kemudian perlahan meniada lagi. Semua mengalir apa adanya.
Akhirnya, kata-kata di sini berangkat dari asumsi, meskipun dapat membawa sejuta makna dan berlaksa misi, itu tetap sebagai tumpahan belaka, tanpa keinginan –dalam artian postmodern- fragmentatif. Biarlah kata-kata itu tetap menjadi sesuatu yang aporetik namun tetap bermakna dalam human universality values, barangkali juga mirip dengan filosofi Jawa tentang kata-kata : adoh datan winangenan cedhak datan sinenggolan, jauh tanpa dapat disentuh angan dekat tanpa menimbulkan sayat gesekan. Semoga.