Oleh: Mas Ar | Kamis,April 10, 2008

Tempat Tinggal sebagai Rumah

Hanya bilik bambu tempat tinggal kitart 09
tanpa hiasan tanpa lukisan
beratap jerami beralaskan tanah
namun semua ini punya kita,
memang semua ini milik kita sendiri

Hanya alang-alang pagar rumah kita
tanpa anyelir tanpa melati
Hanya bunga bakung tumbuh di halaman
namun semua ini punya kita,
memang semua ini milik kita sendiri

Haruskah kita beranjak ke kota
yang penuh dengan tanya ?

Lebih baik di sini, rumah kita sendiri
segala nikmat dan anugerah yang Kuasa
semuanya ada di sini, rumah kita.

(Rumah Kita, Ahmad Albar)

Diperlukan sebuah idealisme untuk menjadikan tempat tinggal sebagai rumah.


Ada perasaan damai ketika sebuah tempat tinggal bisa memberikan rasa nyaman bila dihuni. Seperti apapun bentuk dan seberapa besar ukuran, biasanya bukan merupakan takaran pasti. Dimensi tentang hal ini selalu relatif, tergantung dari kebutuhan. Bisa berupa kebutuhan akan fungsi, ruang, kualitas, model, selera, atau bahkan status sosial. Namun demikian pada dasarnya, tolok ukur akan kembali mempertimbangkan hal yang mendasar, hati nurani.

Sulitnya, hati nurani kadang-kadang sangat banyak dipengaruhi oleh beragam hal yang bersifat situasional, kondisional, temporal, juga kultural. Apabila tidak kuat menjaga dengan tetap mempertahankan nilai-nilai yang dianggap hakiki, nurani sering mudah tergeser. Belum bisa memahami existing dimension yang ada, ukuran baru telah berkembang menjadi trend, hal-hal yang relatif itupun berubah lagi.

Rumah bisa dianggap bukan sekedar sebagai tempat tinggal apabila ia dapat menjadikan penghuninya memiliki rasa tenteram, nyaman, dan damai. Bila keadaan ini dapat terpenuhi, bisa mengikuti Londo Inggris membedakan antara kata house dan home.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori