Tidurlah intan, tidurlah tambatan jiwa
Hari sudah malam, pejamkanlah mata
Tidurlah intan, tidurlah pualam bunda
Jangan bermain juga, bergurau tertawa
Papa tlah penat asyik bernyanyi-nyanyi
Tidurkan engkau anakku jauhari
Tidurlah intan, tidurlah kekasih hati
Esok hari kita, bergurau kembali.
(Langgam Tidurlah Intan, Nick Mamahit, dengan modifikasi)
Ini bedamu, tetapi ini samamu juga.
Ketika selesai kurangkai gambar kepenatan sepanjang jalan-jalan kereta Palmerah-Sudimara, kubasuh lesuku untuk kemudian meletakkan mimpi di beranda. Sambil kuangkat gelas dan sebatang ‘Tales Biru’, kunikmati lelahku. Asap putih letih mengambang, membuka seludang cerita tentangmu, di kala kau sesenggukan datang membawa selendang untuk timang-timang.
Purnama telah merana karena gemerlap nyala bola api. Tak ada celoteh sorak-canda kawan sebaya, meski benderang tapi senja ini mati, riuh yang pernah kulalui menjadi sebuah elegi nestapa. Apa yang aku rasa ketika matahari telah sembunyi tepat di belakangku? Barangkali adalah sebuah tanda tanya lagi yang kembali mengerak pada relung benak, yang masih saja merasa bahwa tanda itu sebagai sesuatu yang indah, meski kadang mengerikan dan membuat gundah. Atau segenggam harapan yang barangkali membawa pesan bahwa esok hari aku harus tetap berlari menyusun garis-garis gambaran bumi. Mungkin itu akan tetap membuatmu padu antara tubuh dan usiamu.
Bisa jadi engkau memikirkan sedu-sedan yang mengerang di bawah rambut tipisku, meratapi sebait tutur Luru-luru Mundhu yang tak mampu kuperagakan padamu. Atau engkau tersedak oleh isak yang mendesak dada kecilmu, yang mengabarkan bahwa dolanan cakapan bergandengan itu sudah usang. Memang, dialog lugu pedagogis saling berbagi njaluk banyu dan perlindungan anak itu telah hilang, bahkan kerlap-kerlip di belakang dan sorakan tentang laut-laut maha luas telah usai, gelombang panjang telah memunggungi batu-batu cadas di pantai. Dunia kecilku telah sirna tertelan masa, yang ada saat ini adalah cakrawala halus nun di sana yang harus kutegaskan garisnya, kemudian kugenggam untuk kuselipkan di jari-jemari mas Gilangmu, di rambutmu, dan di kedua telinga dik Stanggimu. Sedangkan batas kaki langit itu masih belum tergapai tuntas, meski panorama indah itu juga belum sama sekali terlepas.
Atau engkau meratap tentang ayunan kakiku yang tak mampu lagi kau ganduli karena penatku, lalu tak bisa kumainkan ungkang-ungkang uluk si kaki masak kuthuk. Atau punggung rapuhku yang nyeri terdempet sandaran kursi, hingga tak kuat menggendong lintang tubuhmu layaknya seikat kayu : bedhek, bedhek, sinten tumbas bedhek. Tak kuasa juga aku duduk sambil membungkuk mengayun pinggang yang telah meregang, sluku-sluku bathok, bathoke ela-elo, si Romo tindak Solo, leh-olehe payung ijo. Aku juga tak pernah sembunyikan mainanmu pada kepalan tanganku di atas punggung tengkurapmu sambil lelaguan : Cublak-cublak suweng, suwenge ting gelenter, mambu ketundhung gudel, Pak Empong lera-lere, sopo ngguyu ndhelikake, sir-sir pong dhele kopong, sir-sir pong dhele gosong. Tak akan ada yang mencari mainan itu meskipun sudah tak gegem nganti lumuten. Dolanan ajaran kebersamaan itu telah hangus berdebu terpanggang asap kemukus waktu. Tidak juga untuk kupilin-pilinkan ujung telunjuk jariku pada tumpukan punggung telapak tanganmu, yek-uyek ranti ono bebek pinggir kali, nuthul pari sak uli…. abang-abang dironce, roncene pupus gedhang, geget thuit tumo daging. Lalu kuangkat silang dua tanganmu di pundak hanya untuk sekedar kugoyang-goyang dan kutanya : ‘Bisu-bisu, jenengmu sopo?’. Dan bila kutunggu jawabnya, hingga sekarangpun tetap akan diam selamanya, sebab main canda-ceria tanpa pembedaan sesama itu telah pralaya.
Mungkin juga engkau menangisi nelangsaku, karena tak mampu lagi kupahami ulang kiroto boso dan ngeng gegendhingan pada kidung-kidung lamaku. Hilang segala kenang, gita nasehat dan ungkap syukur itu telah menghablur lenyap dalam semrawutnya nada-nada tanpa laras pada semua ruang hati dan pikirku. Tak dapat lagi kurangkai maskumambang atau mijil untukmu, bahkan sekar pangkur untuk batas kembara tindak hidupku pun aku tak tahu. Apa yang harus aku simpangi dan aku singkuri pada umur bayaku ini, tidak lagi tersuluh oleh lentera dari sana. Juga tidak sekedar tembang pocung untuk mempersiapkan matiku.
Sepertinya semua telah selesai pada saat kurasakan hendak kumulai. Dongeng Bathara Krisna telah tergantikan Avatar Ninja, cerita Dhono-Dhini tergusur Sasuke-Naruto Uzumaki, tembang Kodhok Ngorek terlindas suara-suara asing merengek di telingaku, benthik kayu loro lenyap tertelan Nintendo. Gamang, aku seperti seorang pejuang yang tetap tegak berdiri di antara ribuan onggok tubuh yang telah rela mati karena terlanjur yakin membela ilusi dan kalah oleh cahaya yang terpendar dari sebuah lensa, meskipun sebenarnya kristal itu kadang hanya sekedar memberi halusinasi belaka.
nDhuk, larut malam hampir datang ketika kali ini sembari tersenyum sayu kau gugah semestaku, tersentak aku lalu beranjak menyongsongmu. Dengan kembali membawa selendang usang yang selalu dirawat Mamamu, kau eja parau kebiasaan sebelum tidurmu. Ya, kau suka itu dan aku juga kepingin : ‘Pa, lelo-lelo pakai kain’