Welcome to my world, won’t you come on in
Miracles I guess, still happen now and then
Step into my heart, leave your cares behind
Welcome to my world, built with you in mind
Knock and the door will open, seek and you will find
Ask and you’ll be given, the key to this world of mine
I’ll be waiting here, with my arms unfurled
Waiting just for you, welcome to my world
(Welcome to my World, Jim Reeves)
Selamat Datang, ini duniaku, semoga duniamu juga
Semerbak wangimu masih tertempel lekat di dekat doaku ketika kau menangis menyapaku di belakang mBak Kidung dan Mas Gilangmu. Sama dengan kakak-kakakmu, ada rasa suka tak terhingga dalam dada orangtuamu. Memang ada nuansa warna tipis tersembul mengiring suasana hening pada masing-masing saudaramu. Ketika mas Gilang perkasa datang, beriringan doa tentang seutas benang dan semangat Mamamu. mBak Kidung hadir anggun bersama doa tentang bunga sekuntum dan senyum Mamamu. Sedang kau cantik menik-menik menghampiri, berdampingan doa tentang angka selarik dan harap Mamamu.
Hidup ini, dalam gambar temaram malam-malamku, adalah sebagai sebuah tempat tinggal sederhana. Bayang itu hendak kuwujudkan menjadi istana penuh pualam yang bisa menjuraikan cahaya damai dan dapat memijarkan sinar tenteram maharani kekal lestari. Pondok itu telah terbangun dan menghadap ke sana, meski seadanya namun telah siap tersedia. Lahan kasih abadi terhampar luas sebagai alas berdiri, dengan dasar pondasi kokoh batu Gilang anak gunung-gunung dewata, termantrakan nyanyi syukur Kidung doa hadirnya Maharsi, dan kini dilengkapi harum Stanggi dupa sebagai sembahan Rabuni dalam serangkai litani. Tuhan akan mengarak awan sebagai perindang dan menyulut tiang api sebagai suluh lentera di kala ratri, harapan samadhi setiap tarik nafasku.
Ketuklah rumah ini, pintu pasti dibuka sepenuh limpahnya. Carilah dalam wisma ini, kau akan mendapatkan sebanyak yang ada. Dan tanyalah pada kami, kau pasti akan diberi kunci untuk membuka dunia yang tlah kuhimpun bersama Mama, Mas Gilang, dan Mbak Kidung. Selamat Datang dik Stanggi, putri mungilku.
Dhenok, akan selalu kusambangi setiap mimpi yang akan kau rangkai. Jauh jalan yang kutempuh seperti hanya sejengkal telapak kakiku, tatkala kulalui dengan sepenuh hati, agar kau bisa melangkah lebih gemulai. Laut yang kuseberangi layaknya sekedar sebuah telaga, bila sejumput senyum sipumu membayangi bahtera, untuk bisa kau nikmati gelombang hidupmu. Langit biru di luar jendela yang kulalui cuma terasa sepenggalah di atas mataku, ketika kau menatap pandangi angkasa, hingga nanti akan lebih dekat batas cakrawalamu. Percayalah, aku datang ke palagan sebentar lagi pasti akan menang, dan pulang membawa bintang sebiji untuk kau pandangi setiap pagi.