Oleh: Mas Ar | Senin,Maret 24, 2008

Meneb

Kowe wus padha krungu pangandiko mangkene : Mripat winales mripat, untu winales untu. Nanging Aku pitutur marang kowe : Kowe ojo nglawan marang wong kang gawe piala marang kowe, malah sapa kang nangani pipimu tengen, pipimu kiwo ugo ulungno pisan

Pengendalian diri, berat memang, tapi terkadang tetap diperlukan.

Gunungkidul adalah wilayah hamparan pegunungan kapur miosen yang sudah berkembang baik, sehingga terdapat kubah-kubah bukit dan gua-gua yang terbentuk oleh dinamika air selama berjuta tahun. Proses ini berlangsung hingga hari ini, oleh karena itu pelarutan unsur kapur oleh air masih terus terjadi. Penduduk setempat dalam memanfaatkan air tanah untuk memenuhi kebutuhannya, karena kondisi alam tersebut, jarang mengkonsumsi langsung air yang sudah dimasak. Hal itu disebabkan oleh kekeruhan air akibat kandungan kapur yang tinggi. Mereka mendiamkan air masak itu beberapa saat hingga air nampak jernih, karena kapurnya mengendap, meneb.

Dalam perspektif filosofi Jawa, meneb ini sering dijadikan analogi untuk keadaan batiniah seseorang. Karena latar belakang budaya Jawa sangat menekankan harmoni, pada tingkatan ideal mengesampingkan jauh-jauh konfrontasi, sehingga pengendalian diri seseorang sangat dikedepankan dalam pergaulan sehari-hari. Orang yang meneb, menurut Frans Magnis Suseno, adalah orang yang dewasa secara jasmani dan rohani, memiliki keseimbangan antara berpikir dan bertindak. Ia akan selalu menggunakan referensi kuat, yang dibangun dan digerakkan oleh pengajaran yang terus-menerus secara evolusioner (perlu waktu, proses, dan perubahan genetik/hakiki), yang namanya hati nurani. Selanjutnya hati nurani ini akan menghasilkan akal budi (apabila meliputi berbagai aspek disebut budaya atau kebudayaan). Ubo rampe atau komponen dari akal budi ini dalam implementasinya di masyarakat berupa seperangkat nilai-nilai, dan nilai-nilai itu merupakan pancaran dari keyakinan atau keimanan yang ia peluk. Pengarang buku Etika Jawa ini juga mengemukakan bahwa sikap meneb merupakan sikap batin yang tepat, tindakan yang tepat, pada tempat yang tepat, dan pada saat yang tepat, sehingga bisa dikatakan sebagai inti pandangan Jawa (empan roso, empan laku, empan papan, lan empan mongso). Di belakang gejala-gejala lahiriah terdapat kekuatan-kekuatan kosmis numinus (adi kodrati) sebagai realita yang sebenarnya, dan realita yang sebenarnya pada manusia adalah batinnya yang berakar dari dalam alam numinusnya. Berdasarkan etika Jawa, lanjutnya, hidup manusia akan dipandang berhasil sejauh ia dapat menyesuaikan diri dengan realitanya, atau sejauh mana ia dapat memasuki realita itu (dalam pemahaman ekstrim, manunggaling Kawulo-Gusti). Kriterium keberhasilan diukur pada suatu keadaan psikologis, yakni kondisi slamet, yang mengacu kepada suatu keadaan ketenteraman batin yang tenang.

Terkadang memang, sikap meneb sering dikonotasikan sebagai sikap yang tertutup, pasif, apatis, bahkan putus asa. Namun demikian sejatinya dalam sikap meneb itu bersemayam nilai-nilai keimanan yang paling hakiki. Ia merupakan filter yang kuat sebagai alat yang sangat efektif untuk menyaring hal-hal yang datang dari luar yang sangat beragam, juga sebagai sarana pengendalian diri yang tepat dalam menyikapi suatu peristiwa. Apabila bereaksipun, orang yang meneb ini akan selalu kembali ke acuan dasar, yaitu sikap Welas Asih.

Namun sayang, rasa meneb pada bangsa ini, termasuk pada orang Jawa, semakin kehilangan tempat persemaian. Bahkan apabila melihat fenomena mutakhir terutama yang ditunjukkan oleh keberingasan massa, sikap reaktif yang berlebihan dan destruktif, mungkin telah banyak orang yang telah tercerabut dari akar budayanya. Salah satu cara untuk kembali menumbuhkembangkan rasa meneb itu adalah dengan kembali bergumul, mendengar hati nurani yang telah diberi pengajaran, membuka diri seluas-luasnya terhadap ajaran itu, dan menghasilkan buah ajaran yang bisa dinikmati lingkungannya.

Seorang petani yang menabur benih pasti memiliki harapan, agar biji kecil itu dapat hidup: berakar, bertunas, bersemi, bertumbuh, berkembang, dan akhirnya berbuah. Sama halnya saat seorang Guru Bijak mengajar pasti menginginkan anak didik untuk dapat mendengar, mengetahui, memahami,  meresapi,  menerapkan, dan membawa pencerahan, bila mungkin pembaruan paradigma barangkali.

Semoga.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori