Dulu, suatu Minggu siang, dua puluh empat tahun lebih bebera- pa minggu lalu, saat kamu kelas tiga sekolah atas paruh pertama, pepaya matang yang kamu suguhkan padaku itu sangat kecil, hampir sekecil pisang tapi manis sekali rasanya. Ada beberapa butir yang tersaji dan karena rasa manisnya itulah, akhirnya kubawa pulang sebiji.
Aku datang ketika itu bersama teman gadismu yang secara ti- dak sengaja bertemu di tempat teman lain selepas persekutuan bersama. Pada waktu itu ia bilang bahwa kamu pernah berkata padanya, kamu terkena percikan kesialan karenaku. Katanya kamu keno awu anget, istilah di dusun kita yang berarti terpercik imbas buruk. Maksud kedatanganku itu adalah untuk menanyakan apa gerangan sikapku yang membuat orang lain tidak nyaman, sedangkan aku sudah berusaha sebaik mungkin dalam bergaul, harmoni selalu kujunjung tinggi.
Memang, dalam beberapa Senin pagi awal semester itu secara kebetulan kita satu kendaraan, dan selalu dapatkan tempat duduk berdampingan pula. Kamu berangkat sekolah dan aku hendak ke kota raja menggapai mimpi menjadi cindekia meski hanya sekedar tukang peta. Ada percakapan memang di antara kita, tentang kakak lelakimu yang saya kenal, tentang ayahmu yang juga teman mBah Kakungku, tapi mungkin tidak ada hal-hal yang tidak biasa. Seingatku hanya peristiwa itu yang pernah terjadi hingga kita ada interaksi. Hal itulah yang membuatku tidak bisa mengerti bila sikapku bisa melukaimu, seorang gadis pemalu yang mungkin belum pernah lebih dulu menegurku. Dari kecil memang aku sudah melihatmu, kakak perempuanku adalah teman kakak perempuanmu, bahkan bila kemarau panjang melanda dusun kita dan kebetulan aku main ke rumah mBah Kakung tetangga dekatmu, aku mandi di sumurmu. Pada Sekolah Rendah dan Pertamapun aku adalah kakak kelasmu meski dua kelas lebih atas. Di Sekolah Minggu aku juga sekelompok umur denganmu. Kita bertetangga maski agak jauh dan sering ketemu, tetapi jarang bersapa, kamu terlalu pendiam, sedang aku terkadang tidak selalu gampang memasuki lingkungan di luar komunitasku.
Oleh karena itulah, aku harus datang padamu untuk menanyakan sesuatu, agar tidak berketerusan ketidaktahuanku. Ketika sampai di rumahmu, keberanianku terasa hilang, lidahku kelu, aku tak sanggup untuk bicara apapun menyangkut permasalahan itu, sebab selama ini aku belum pernah membicarakan sesuatu dengan seorang gadis yang mungkin akan jadi sangat mengganggu, aku jadi bisu. Setahuku kamu terus menyuguhkan buah pepaya itu kemudian kamu larut mendengarkan cerita-cerita teman gadismu yang tadi datang bersamaku. Entah cerita tentang apa, aku tidak pernah mengingatnya.
Di mejamu juga ada beberapa album keluarga, kemudian aku lihat lembaran-lembarannya sekedar untuk menghilangkan kekakuanku. Halaman demi halaman kubuka, mungkin juga tidak dengan perasaan berbeda karena sebagian besar orang dalam gambar itu kukenal, sampai mataku terhenti pada gambarku sendiri yang ada di situ. Ya, memang ketika ritual suci air pelepasan kuterima tujuh delapan bulan sebelum itu, juga bersamaan denganmu. Ketika lembar itu seksama kuamati, di situ ada juga kamu dan dalam gambar itu ada sesuatu yang luar biasa bagiku di matamu. Kututup lembar itu, mungkin karena gerak pertahanan batinku, lalu kubuka lembar berikutnya. Namun Dhuh Gusti, justru di situ ada lagi gambar lain ketika basah kuyup rambutmu. Makin jelas mata itu, juga bentuk kening, dagu, dan hidungmu. Kuberanikan menatapmu untuk mencari kesamaan dengan gambar itu, lalu kutemukan hal yang tidak berbeda bahkan terasa ada sesuatu yang muncul dari sana. Dari situlah aku tahu keterkejutanku, ternyata ada sinar mata yang sama, pendaran aura yang sama, yang kuperoleh dari keluargaku. Ada cahaya yang hanya bisa kurasa jauh di lubuk hatiku.
Aku tak mengerti mengapa semua itu membuatku bingung, seperti ada beban yang tiba-tiba datang dan sampai kembali ke rumahpun perasaan itu masih terbawa. Ada sesuatu dalam hatiku yang harus kupertahankan tetapi aku sendiri tidak tahu apa sesuatu itu. Ketika pulang aku melalui jalan memutar yang tidak biasa kulewati, ada rasa malu dan takut yang ada dalam benakku, hingga rasanya aku harus menghindar dari kemungkinan tatapan orang yang akan kutemui bila aku melalui jalan yang biasa. Aku hendak sembunyi. Sampai di rumah, kukupas pepaya itu buru-buru agar adik dan orang tuaku tidak tahu, meski biasanya kami selalu saling berbagi. Bukan karena kerakusanku yang memaksa aku harus menyembunyikannya, hanya karena aku tidak berani bila harus menjawab buah itu kuperoleh dari mana.
Akhirnya kuputuskan bila aku harus ke kota sore itu juga, biar tidak terganggu oleh perasaan yang menyiksa. Aku pamit adik dan ibuku, hingga mereka bertanya sebab semester itu biasanya aku pergi Senin pagi. Aku tidak menjawab mereka, dalam hati aku hanya takut bila esok hari aku harus kebetulan bersamamu lagi. Aku terkejut dari diamku ketika ibuku berkata, “Ya sudah, tapi makanlah dulu, sebab pepaya itu belum tentu bisa mengenyangkan perutmu.” Aku heran ternyata ia memperhatikan buah itu.
Aku berangkat tanpa menuruti nasehat ibuku, sebab pepaya kecil itu terasa telah memenuhi seluruh rongga dalam tubuhku.