Oleh: Mas Ar | Jumat,Maret 14, 2008

Untuk Ibu

Ojo turu sore kaki
Ono dewo nganglang jagad
Nyangkir bokor kencanane
Isine donga tetulak
Sandang kalawan pangan.
Ikumung bagian ipun,
Wong melek sabar narimo…..

( Asmorondono)

Telah lebih dari selapanan tahun, namun rasanya belum lebih dari tiga puluh lima hari itu terjadi, dan selalu kembali terngiang bila sepi malam datang menyambangi ruang tidur saya.

“Uro-oro maneh, aku durung bobok”, begitu selalu saya minta engkau mengulangi beberapa sekaran setelah doa, sambil kau tepok-tepok lembut bokongku, hingga saya tak lagi mendengar suaramu karena saya telah pulas. Dalam tembang tersebut kau sisipkan arti podo pada pupuh itu, bahwa dalam hidup ini diperlukan usaha untuk mencapai sesuatu, dan usaha itu harus disertai dengan selalu mengingat kepada yang di atas karena Ia akan selalu menjaga dari segala bencana, terlepas dari apakah kita disuka atau tidak olehNya, karena nafsu kita, utamanya kemalasan dan ketidaksabaran. Hanya saja kita harus selalu bersyukur atas apa yang telah diterima, sehingga dapat mengekang nafsu itu, yang biasanya dilambangkan dengan tembung (sebuah kata, terangmu) sare, kemrungsung, lan ora nrimo ing pandum. Sekar Asmorondono (saya tak mengerti kenapa tembang ini) yang kau lantunkan,  menurutmu memiliki karisma tinggi dalam budaya kita. Pengetrapan dalam hidup saya pada waktu itu, katamu, saya harus teguh dan kuat dalam menjaga keinginan hati dengan cara terus belajar, tidak hanya dari bangku sekolah tetapi juga belajar memahami hidup itu sendiri. Namun demikian, apapun yang diberikanNya harus diterima apa adanya dengan penuh kesabaran disertai ungkapan syukur dan suka cita, karena yang pasti Gusti ora sare, kita akan selalu ngundhuh wohing pakarti, itu pesanmu. Kemudian baru rengeng-rengeng tembang lain, Maskumambang, Mijil, Sinom, Dhandhang Gulo, Pangkur, Pocung, atau Tembang Dolanan Gisik Samodra, Ilir-ilir. Bisa pula kau alunkan Yen ing Tawang ono Lintang, Caping Gunung, Lelo Le Dhung, juga tembang Dhamparing Sih Rahmat, Neng Koso Ngumandhang Satunggal Nomo, Pamarto Kula Agesang, Muliho Angger, atau Dalu Suci.

Pada malam yang lain saya ingin engkau senandungkan lagu. Yang pertama terdengar pasti Langgam Jauh Sudah. Saat itu saya tak mengerti tentang lagu itu, meski kau jelaskan bahwa langgam itu menceritakan kerinduan seseorang yang telah ditinggal pergi orang yang disayangi. Ia telah pergi jauh, menghancurkan rasa hati bila teringat dan terkenang. Tak dapat dilupa saat masih bersama, tutur kata terus berkumandang di telinga. Namun apa daya dia sudah jauh pergi laksana awan tinggi, hanya bisa berharap dan berdoa semoga nanti dapat kembali berjumpa. Setelah tumbuh dewasa, saya baru tahu makna lagu itu, dan terutama terkait dengan suasana dalam hatimu. Saya bisa memahami karena waktu itu Bapak sudah tiada lagi sejak saya masih bayi (mengapa kau ceritakan pada saya beliau pergi beli sapi?). Baru kemudian senandungan lagu lain, Langgam Mawar Bunga, Keroncong Sapu Lidi, Stambul Jauh di Mata, atau lagu Sepasang Mata Bola, Aryati, jarang memang kau nyanyikan Nina Bobo karena lagu itu sama dengan Tinggal Sertaku, tetapi kadang kau lagukan Malam Kudus, Gembala Kami, atau Berserah, hingga saya tertidur juga akhirnya.

Terkadang saya ingin dengar cerita dan dongengan. Cerita tentang masa kecilmu, Simbah, mBah Buyut, mBah Canggah, dan seterusnya. Seringkali tentang cerita turun temurun di sekitar kita, Ki Wonokusumo yang tinggal di Wonontoro lahan hutan yang kelihatan dari tanah Ngampon petilasan seorang Mpu, mBah Nglemuru dan reruntuhan candi boto, orang-orang berambut kriting dan keturunannya di dusun kita termasuk kakak iparmu swargi Pakdhe Adi, gadis ayu penjual dhawet di bawah pohon jati di Jatiayu, atau Perdikan Cangak Mengrang, juga Candi Lawang itu. Di saat lain kau awali dengan : ‘Pinuju sawijining dino…’, lalu mulailah dongengan Kancil, Manuk Bul-Bul, Brambang Bawang, Dongengan Panji (selalu saya tanyakan, nanti tokoh Dewi Sekar Taji bahagia tidak karena awalnya selalu sengsara atau Kang Jodhek poro Sonto abdi Panji Asmoro Bangun akan ada pada cerita tidak), bahkan tentang Mas Karebet, Nogo Sosro lan Sabuk Inten (katamu, Mahesa Jenar itu ketemu Roro Wilis cucu Ki Pandan Alas di hamparan ribuan gunung kita, karena si Pudak Wangi itu berasal dari situ), Ontran-ontran ing Banjar Anom, atau Ki Ageng Pemanahan, Juru Mertani, dan Ki Penjawi. Kau kisahkan bukan tentang kemenangan Danang Sutowijoyo, tetapi tentang kekecewaan Bumi Pati. Katamu bisa saja banyak orang berbeda tindak dalam menyikapi suatu peristiwa, ambisi juga dapat mengaburkan kekerabatan, bahkan menimbulkan perang. Kadang juga cerita tentang Jenghis Khan, Nero, Si Penyambung Lidah Rakyat, Pending Emas, Pak Mukibat yang akhirnya merana, atau Yoko Si Pendekar Rajawali Sakti (itulah ketika The Return of The Condor Heroes ramai di televisi, tergopoh suaramu di seberang memberi tahuku untuk sekejap melirik masa kecilku), San Pek Eng Tai, juga tentang Ben Terah Bapa ajaran widhi, Ben Amram suku Yakub kisah bedhol bongso, Ben Isai penulis Mazmur dan Kidung Agung, Rabuni Ben EL yang terurapi, Kefas si Batu Karang yang Teguh (katamu kalau di sini seperti batu gilang) sebagai pondasi, atau Kedatangan orang Majuz dari Timur yang membawa mur dan stanggi, namun jarang sekali saya dengar gedhang Kepok gedhang Grentel, dongeng Simbok uwis cunthel, karena saya telah kembali merajut mimpi.

Ada kalanya saya ingin kau pijiti seluruh penatku seusai bermain bola selepas senja pada waktu purnama. Atau ketika selesai saya main jethungan, jamuran, sepak sekong, gobak sodor, bahkan juga cuma sewaktu habis main Dhoktri Legindhi Nogosari atau Gotho menek Elo. Tanpa peduli lembab seluruh pakaianku, engkau mulai usap betisku, pahaku, punggungku, lalu kau belai kepalaku. Ada kehangatan jemarimu yang merayapi tubuh lelahku, hingga akhirnya saya terlelap di pangkuanmu (dan saya selalu terbangun pagi-pagi di amben dalam pelukanmu).

Terlalu banyak yang ingin saya catat dalam perjalanan hidupku, mudah-mudahan bisa tertulis semua, sebab dulu pernah saya lakukan juga, tetapi setelah angkaku 33 (seperti janjiku padamu saat kecilku dulu), buku itu saya tutup. Maafkanlah, karena saya telah mendapatkan seseorang yang sepertimu. Saya bahagia saat ini engkau masih sehat perkasa meski renta termakan usia, sehingga saya bisa ceritakan padamu, bahwa banyak hal yang  dulu kau lakukan padaku, beberapa di antaranya telah sering saya lakukan pula pada anak-anakku.

Palembang, Maret 2008.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori